Tampilkan postingan dengan label Perkembangan bayi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkembangan bayi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 April 2014

Ketika si Kecil Belajar Sebab-Akibat

Memiliki balita di rumah harus siap menerima kenyataan "gak bisa punya barang awet"
HP bisa jadi sayur bening HP, kamera bisa jadi umpan ikan, telpon rumah ganti sebulan sekali, komputer kena susu, dan banyak lagiii...

ikan-ikanan korban belajar argi untuk memahami :D
Ayah dan bunda marah?? wajaarr..kite kan manusia, boleh dong tanduk sekali-kali keluar (manusia punya tanduk???). yang penting jangan menghukum anak ketika tanduk keluar.

kali ini aku cuma pengen bercerita dari pengalaman belajar argi, jagoan kecil ku 3 tahun.

Sejak bayi, suami dan aku selalu menanamkan untuk menghargai hak milik dengan harapan kelak dia mampu untuk menghargai apa yang dimilikinya dan mempertahankannya. hanya saja, belajar adalah proses yang lama, dan dalam proses itu ada banyak kejadian yang bikin gregetan ati. Misal saat Argi berumur 1,5 tahun; Setiap berpergian, emak pasti nya selalu bekel aneka keperluan untuk anak. termasuk susu UHT favorit argi. Syarat mutlak ngajak anak kecil adalah tidak boleh membiarkan tenggorokannya kering dalam waktu lama, karena bisa menyebabkan radang tenggorokan. Jadi, sebentar-bentar Argi menenggak air putih atau susu favoritnya walaupun di atas motor. Susu ultra di tangannya habis, argi tetep memegang dengan erat kotak nya. tanpa di sengaja kotak nya terjatuh di tengah jalan raya dan argi menjeriit "ndaaaa..cucu tuuh " (bunda susu jatuuh). ku pikir cuma kotak kosong dan kami berada di tengah jalan raya padat "gak papa nak..kan sudah kosong..bunda masih punya banyak kok".
Namun seperti pribahasa "kami yang menanam akhirnya kami pula yang mengetam", argi gak mau, tetap bersikukuh bahwa kotak itu miliknya, terjatuh harus di ambil dan di kembalikan ke tangannya. sebisa apapun aku membujuk tetep saja demo Argi menang. akhirnya ayah kembali memutar balik dan bunda sibuk turun dari motor hanya untuk ngambil kotak susu kosong di tengah jalan raya padat, padahal begitu sampai di rumah pun Argi langsung menuju kotak sampah untuk membuang kotak susu kosongnya, fiuuuhhh (*_*").

Lain waktu lain cerita, saat ayah membelikan argi pesawat terbang pertama nya. Waah, tidur, makan, main di bawa kemana saja. Tak boleh ada yang menyentuh. untungnya dia mau mengerti, ketika baterei habis, maka harus di charge dulu baru dimainkan. namun sayang, akibat proses belajar sebab-akibat pesawat tersebut akhirnya di makamkan. Ceritanya, Argi sejak kecil sangat suka nyemplungin benda ke dalam got, entah itu sendok, peralatan makan, minum, dan benda-benda lain. ia sangat menikmati ketika ada suara "plung" dari dalam air. maka emak dengan sabar memunguti, mencuci sambil menjelaskan mengapa dilarang nyemplungin barang ke got walau pun itu menyenangkan. Suatu sore kembali emak kecolongan, Argi kembali nyemplungin barang-barang dan kali ini salah satu korbannya adalah pesawat terbang kesayangan. Hohoho..dia langsung minta tolong, nyeret-nyeret minta tolong untuk di ambilkan. pasti nya karena basah kena air, pesawatnya pun rusak.
"Ucak nda..ucak...ndak unyi" (rusak bunda..rusak pesawatnya gak bunyi). argi meratap sedih, pesawatnya rusak.
"bunda sudah sering memberitahu Argi bukan, ini adalah salah satu sebab kenapa tidak boleh nyemplungin barang ke got." Apa boleh buat, tidak semua barang rusak bisa di perbaiki. Argi sempet murung 1 hari, rewel sambil pegangin pesawatnya tapi setelah itu dia tidak pernah lagi nyemplungin barang ke got, paling-paling dia cemplungin batu (*_*")

Kali yang lain, lubang-lubang kecil pun tak luput dari tangan argi, seperti mesin cuci, kotak tempat sabun di mesin cuci pun termasuk daftar hitam argi. sendok, sampah dan aneka benda selain sabun dan softener pun ada didalam. Begitu pun dengan air cooler, karena bentuknya berlubang (seperi ventilasi) maka Argi pun menjadikan nya korban belajar, berulang kali bunda menasehati bahwa obeng, koin, lipstik tidak sepatutnya di masukkan ke dalam air cooler. dan seperti biasa, argi hanya patuh sesaat dan bilang ""ooo iya upa agi nya " (oh, iya lupa arginya). Besok hari ketika emak mencari barang yang hilang, maka box air cooler termasuk salah satu tempat pencarian selain bagasi mobil-mobilan dan mesin cuci. Tapi kebiasaan masuk-memasukkan benda ke lubang ini berhenti ketika suatu pagi argi bermain corat-coret tembok dan lantai dengan krayon. Bosan dengan acara corat-coret kembali dia beraksi dan korbannya adalah krayon miliknya sendiri. ketika selesai memasukkan krayon nya argi sadar bahwa krayon telah habis dan dia butuh krayon tersebut untuk aksi corat-coret. maka dia menagis dengan sedih
" bunda...tuliskan nya macuk de dalem" (argi menyebut krayon, spidol, pensil sebagai tuliskan, mungkin dia mengartikan keterangan ayah bunda bahwa alat-alat tersebut adalah alat tulis).
"masuk kemana gi ???" Emak pura-pura gak tau.
Lalu argi menunjuk ke ir cooler "macuk di cini tuliskan nya bun..." sambil menatap sediiihhhh
Seperti biasa, bunda hanya memanggku dan memeluknya sambil duduk di deket ice cooler bunda bilang
"Argi lupa ya bunda sering bilang apa...?" argi cuma terisak diam.
"tidak semua milik kita yang hilang, terjatuh, rusak bisa di ambil lagi..bunda selalu bilang jangan memasukkan apapun ke dalam sini, karena selain merusak barangnya pun gak bisa di ambil lagi...Besok-besok anak bunda yang pinter gak ngelakuin lagi ya..." kataku sambil natap matanya.
argi ngangguk dan tanya "tuliskan nya bun?? agi begimana??" (maksudnya adalah krayonnya bagaimana bunda..argi nanti pakai apa).
Aku jawab "ya mau bagaimana lagi gak bisa diambil..."
Argi seperti biasa nangis dan bilang tuliskan bunda...malamnya dia hanya menatap kertas-kertas gambar nya dan kadang ngintip-ngintip ke lubang air cooler. sebenernya bisa di ambil siih, hanya saja sengaja melakukan hal tersebut. menurutku argi kecil harus belajar, belajar kehilangan sesuatu, belajar mengerti kamus sebab-akibat agar dia lebih bijaksana dalam hidup kelak.

Yang terbaru kejadiannya sore kemarin. karena sering melihat ayah dan mbah nya palu memalu dia teringat perlengkapan toolbox nya sendiri. mulai lah palu mainan dia pegang. Teras di depan di palu nya, ku diamkan saja, dia palu-palu tupper**** aku diamkan saja, diambilnya HP bunda hohoho yang bunda kasih cengiran
"itu punya siapa argi??",
"punya bunda.." katanya sambil memberikan hp ke bunda,
kemudian masuk ke dalam diambil nya bedak PAC ku hohohoho "punya siapa itu nak??"
kembali dia mengurungkan niatnya dan menyerahkan perlengkapan perangku.
Akhirnya di ambillah mainan ikan-ikan plastik dan kembali di pukul-di pukul dan di pukul. selama terdengan suara tok-tok tok tanpa jeda berarti, itu artinya aman....tapi tak lama kemudian suara tok-tok-tok itu berhenti, dan 10 detik kemudian argi menghampiri bunda dengan ikan-ikanan terbelah jadi 4.
"bunda..ikan-ikanan agi lucak..sobek-sobek...di selviss..." (bunda ikan-ikanan argi rusak terbelah, di servis kan...")
"lho..kok bisa rusak ??" Emak pura-pura gak tau aja
" argi cuma gini doang tuk-tuk-tuk pake palu-paluan, teyus sobekk..." katanya sambil memperagakan gerakan memalu.
"lho jelas naak..semua barang kalau di palu pasti akan hancur dan rusak..itu sebabnya tadi bunda gak kasih argi ambil bedak sama hp bunda.." jawabku sambil memangku argi.
"tapi agi  gak ucakin bun..agi cuma palu, kan cuma mainan" jawab nya dan awan di mata nya sudah mendung.
Argi yang sekarang sudah bisa berdialog lengkap, bercerita, dan mengungkapkan rasa di hatinya. berbeda dengan dulu yang cuma bisa diam dan menatap mainannya. Untuk itu sengaja ku korek beberapa keterangan dari nya.inti pembicaraan kami adalah, sungguh dia tidak tau apa yang dilakukannya adalah aksi merusak. menurut kacamata nya ia hanya bermain.dan tiba-tiba rusak. Betapa sederhana nya pola pikir anak usia 3 tahun. dan kadang kita sering kali tidak mengerti dan memarahi nya karena kita berfikir menurut kita, bukan dia.

Argi sekarang tidak lagi memukul setiap benda dengan palu nya. Dia telah belajar dari kehilangan 1 buah mainan lagi, sekarang dia memukul dengan benar. Ternyata bahasaku dan ayah ketika menasehati kurang dipahami menurut versinya, untuk itu ia butuh pengalaman dan ternyata pepatah "pengalaman itu adalah guru terbaik" tidak berlaku untuk orang dewasa saja, juga berlaku untuk proses belajar anak-anak. Mereka butuh belajar dan mencobanya sendiri.
ketika menulis notes ini tiba-tiba sarangan merah tempat ku biasa mencuci bumbu (bawang/cabe/kunyit) tiba-tiba bertengger di kepalaku, siapa lagi pelakunya kalau bukan Argi kecilku. Saat ini ternyata dia sedang mencicipi proses melempar barang ke atas tinggi-tinggi (*_*").
Selama itu tidak membahayakanmu silakan aja deh nak, teruslah belajar dan mencoba....

#Kenang-kenangan waktu jagoanku umur 3 tahun :)
May 23, 2011 at 7:42am

Kamis, 28 April 2011

Aktivitas Stimulasi Otak 12-24 bulan

Silakan buat check list nya, jika ada beberapa poin yang masih kurang dari ananda, berarti PR bunda untuk menstimulasi ananda :)
Di fase ini ada 3 bagian motorik kasar, motorik halus, dan kognitif yang mencangkup  pengetahuan umum, bahasa dan sosial emosi.




Motorik Kasar.
  • Berjalan sendiri.
  • Naik tangga atau tempat yang lebih tinggi dengan merangkak.
  • Menendang bola ke arah depan.
  • Berdiri dengan satu kaki selama satu detik. 
Motorik halus 
  • Memegang alat tulis.
  • Membuat coretan bebas.
  • Menyusun menara dengan tiga balok.
  • Memegang gelas dengan dua tangan.
  • Menumpahkan benda- benda dari wadah dan memasukkannya kembali. 
  • Menjimpit

Kognitif (pengetahuan umum, bahasa dan sosial emosi) :
  • Menyebut beberapa nama benda.
  • Menanyakan nama benda yang belum dikenal.
  • Mengenal beberapa warna primer (merah, biru, kuning).
  • Menyebut nama sendiri dan orang- orang yang dikenal. 
  • Menunjuk bagian tubuh yang ditanyakan.
  • Memahami tema cerita pendek. 
  • Merespons pertanyaan dengan jawaban “Ya atau Tidak”
  • Mengucapkan kalimat yang terdiri atas dua kata 
  • Menunjukkan reaksi marah apabila merasa terganggu, seperti permainannya diambil.
  • Menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap orang yang baru dikenal.
  • Bermain bersama teman tetapi sibuk dengan mainannya sendiri. 
  • Memperhatikan/mengamati teman-temannya yang beraktivitas.
Mainan yang sesuai

Bisa berbau, berwarna yang biasa digantung di boks atau diletakkan disekitar anak, mainan ini selain bisa merangsang gerakan dan konsentrasi mata, belajar menggapai dan melatih mata untuk focus dan membedakan warna, sebaiknya dipilih yang tahan banting, dari bahan yang lembut tidak mudah tertelan, bisa menjepit, warna tidak mengandung racun, bisa digigit-gigit, dibanting, diputar-putar dan dipukul-pukul.
Untuk membantu perkembangan motorik (otot) kasar dan halus, mainan yang diberikan bisa membuat anak menggerakkan anggota badannya dari kaki, tangan sampai jari-jarinya.
Contoh mainan untuk menggerakkan otot kasar, misal : bola, kantung biji-bijian, benda bermacam ukuran, palu-paluan, miniatur mobil, pesawat, dll
Otot halus : lilin, pasir, palu-paluan, puzzle  yang mudah bisa melatih perkembangan motorik ini bisa terus menerus diperkaya dari waktu ke waktu, karena itu permainan yang membantu perkembangan motorik anak tetap diperlukan selepas usia tersebut, umpamanya dengan memberinya manik-manik atau kancing baju untuk dirangkai dan lain sebagainya.

Rabu, 27 April 2011

Aktivitas Stimulasi Otak Bayi 0-12 bulan

Lakukan aktivitas menstimulasi otak. Bayi jadi pintar dan bahagia.

Pinjem foto cust..hehehehehe
Kata siapa bermain dan mainan itu sia-sia??? Bermain sangat membantu dan merangsang perkembangan anak, salah satunya, perkembangan otak. Bermain juga tak harus menggunakan alat, Anda bisa membuat permainan sederhana yang kaya makna.

Main senyum, cium, dan suara (0-3 bulan)
Pada periode yang sangat awal ini, rangsang penglihat, peraba, pencium, dan pendengar penting untuk perkembangan otak atau kognisi bayi. Stimulasi seperti mendaratkan ciuman ke kening, pipi, mata, atau bagian tubuh yang lain, mengelus-elus, memberikan senyuman terindah, mengajak bicara, dan mendengarkan musik, membantu si buah hati belajar sense of sensations, sensasi. Hasilnya, bayi mampu memberikan senyum balasan di umur 6 atau 8 minggu. Otak bayi diajak belajar menginterpretasikan berbagai hal seperti ekspresi wajah atau suara dan membantu mengembangkan ukuran otaknya dua kali lipat. Bayi akan mengurangi perhatian pada rangsang yang berulang dan akan menambah perhatiannya saat rangsang itu berubah.


Diskusikan pada dokter bila bayi Anda belum menyambut senyuman maupun stimulasi lain dari Anda. Bila bayi Anda prematur, tanyakan pada dokter apakah perkembangannya yang lambat masih tergolong untuknya.


Main gerak dan tebak (Usia 3-6 bulan)
Di usia 4 bulan, bayi mulai mengenal dan menjalani rutinitas seperti bangun, tidur, atau makan. Anda dapat mengenalkan rutinitas lain yang membantu perkembangan otaknya seperti mengikuti aktivitas bermain sambil gym atau aktivitas motorik. Kegiatan ini membantu bayi belajar sebab-akibat, misalnya ia dapat menggapai mainan yang terjuntai di atasnya bila ia duduk dan merentangkan tangannya ke atas. Selain itu, bermain belajar mengenal anggota tubuh dari cermin juga seru. Anda menunjuk lalu mengucapkan bagian tubuh apa secara jelas dan perlahan. Misalnya “Ini apa? (sambil menyentuh matanya) Ini mata.” Meski ia masih dalam tahap bergumam atau bubble, perlahan ia belajar mengucap satu akhiran kata, misalnya “ta” dari “ma-ta”. Bayi pun bisa memperlajari anggota tubuh dan belajar bicara.

Diskusikan pada dokter ketika ia belum bisa bubble dan tidak mau kontak mata dengan Anda atau perkembangannya tak ada perubahan hingga usianya 6 bulan.


Main “Petak Umpet”(Usia 6-9 bulan)
Pencapaian kekonstanan atau objek permanen sebuah benda bisa diraih pada periode usia ini. Maksud dari konstan yaitu pemahaman bahwa benda sebenarnya tetap ada walaupun tidak terlihat. Umumnya, bayi akan berusaha terus mencari, menemukan benda yang disembunyikan. Berhubung dia sedang belajar merangkak, tentu bayi akan mencari dengan cara merangkak. Biarkan ia merangkak sesukanya. Aktivitas ini dapat menstimulasi koordinasi otak kiri dan kanannya. Bermain Cilukba, menutup benda dengan sapu tangan, atau sembunyi di bawah selimut bisa menjadi permainan sederhana yang menstimulasi otak bayi untuk pemahaman objek permanen.

Diskusikan pada dokter ketika usianya 9 bulan tidak pernah merespon Anda, tidak mengeluarkan suara seperti “d-d-d” atau “m-m-m”, bahkan tidak tertarik sama sekali dengan mainan apa pun.

Bermain kreatif (Usia 9 – 12 bulan)
Dalam periode usia ini terjadi peningkatan mobilitas dan pengenalan lingkungan sekitar. Ia semakin aktif dan cenderung mencoba memberikan stimulus pada orang lain. Misalnya ia mulai menarik perhatian Anda dengan menarik-narik pakaian Anda, menggapai dan mengambil barang-barang di sekitarnya, atau meniru suara Anda. Ia paham situasi yang ia rasakan. Kalau ia merasa sedang tidak mendapat perhatian Anda, langsung ia mencari perhatian! Idenya sangat fantastis.
Memanfaatkan situasi ini, Anda bisa mengajaknya bermain yang menstimulasi kreativitasnya serta mengenalkan perintah-perintah sederhana. Misalnya meminta dia menyusun balok kemudian meruntuhkannya, menaruh barang di tempatnya, atau bermain tepuk-tepuk tangan sambil bernyanyi. Kira-kira bangunan seperti apa yang dibuatnya atau bagaimana ritme tepukannya?

Diskusikan pada dokter ketika bayi Anda tidak menoleh atau merespon saat Anda memanggil namanya, tidak mengerti perintah sederhana Anda, dan tidak menjawab pertanyaan Anda.


sumber: majalah ayah bunda :)

PERKEMBANGAN OTAK BAYI

Otak bayi bukan miniatur otak dewasa. Ia masih akan menjadi besar dan berkembang dari otak yang semula imatur menjadi matur.
Selama otak berkembang pesat di tahun-tahun pertama kehidupan anak, inilah saat paling tepat untuk menstimulasinya. Lalu banyak pertanyaan muncul, mengapa stimulasi yang interaktif harus diberikan di masa-masa tersebut. Inilah jawaban yang diberikan Dr. Dwi Putro Widodo Sp.A(K), M.Med., Ketua Kelompok Kerja Neurologi Anak PP IDAI Pusat, atas pertanyaan-pertanyaan seputar tumbuh kembang otak bayi.

Kapan organ otak mulai terbentuk?Otak mulai tumbuh dan berkembang sejak bayi masih dalam kandungan, tepatnya setelah usia kehamilan 8 minggu. Susunan saraf pusat atau otak merupakan organ yang pertama kali terbentuk. Pada awalnya dimulai dengan pembentukan lempeng saraf (neural plate) pada sekitar hari ke-16 kehamilan. Kemudian, lempeng saraf ini menggulung membentuk tabung saraf (neural tube) pada hari ke-22. Lalu, mulailah diproduksi sel-sel saraf.

Nah, pada hari ke­35 kehamilan atau sekitar minggu kelima, mulai terlihat cikal-bakal otak besar di ujung tabung saraf. Selanjutnya, terbentuklah batang otak, otak kecil dan bagian-bagian lainnya. Mulai usia delapan minggu kehamilan, terjadilah produksi sel saraf luar biasa cepatnya, kira-kira mencapai 250 ribu per detik. Pertumbuhan dan perkembangan otak juga berlangsung cepat sekali, terutama mulai di trimester ketiga, kira-kira saat kehamilan berumur 25 minggu hingga anak berusia 2 tahun.

Bagaimana tahap perkembangan otak?
Proses tumbuh kembang otak sangat kompleks dan melalui beberapa tahapan, yaitu penambahan sel-sel saraf (poliferasi), perpindahan sel saraf (migrasi), perubahan sel saraf (diferensiasi), pembentukan jalinan saraf satu dengan yang lainnya (si- naps), dan pembentukan selubung saraf (mielinasi).

1. Poliferasi
Pada awalnya, bentuk sel saraf (neuron) masih sederhana. Kemudian, mengalami pembelahan sehingga menjadi banyak. Inilah yang disebut proses penambahan (poliferasi) sel saraf. Proses proliferasi ini berlangsung pada usia kehamilan sekitar 4-24 minggu. Proses poliferasi sel saraf selesai/berhenti pada waktu bayi lahir.

2. Migrasi
Setelah proses poliferasi, sel saraf akan mengalami migrasi atau berpindah ke tempatnya masing-masing. Ada yang menempati wilayah depan, belakang, samping, dan bagian atas otak. Waktu terjadi perpindahannya berbeda-beda sesuai program yang sudah dibentuk secara genetik dan alamiah.
Setelah sampai di "rumahnya" masing-masing, sel-sel saraf lalu berkembang. Setiap "rumah" memiliki kurva pertumbuhan sendiri-sendiri. Percepatan pertumbuhannya juga berbeda-beda. Tak heran kalau kemampuan otak setiap anak juga berbeda. Proses migrasi sebenarnya berlangsung sejak kehamilan 16 minggu sampai akhir bulan ke-6. Proses migrasi ini terjadi secara bergelombang. Artinya, sel saraf yang bermigrasi lebih awal akan menempati lapisan dalam dan yang bermigrasi berikutnya menempati lapisan luar (korteks serebri).

3. Diferensiasi
Pada akhir bulan ke-6 kehamilan, lempeng korteks sudah memiliki komponen sel saraf yang lengkap. Seiring dengan itu juga sudah tampak adanya diferensiasi. Yaitu perubahan bentuk, komposisi dan fungsi sel saraf menjadi enam lapis seperti pada orang dewasa. Sel saraf kemudian berubah menjadi sel neuron yang bercabang-cabang dan juga berubah menjadi sel penunjang (sel glia). Sel penunjang ini tumbuh banyak setelah sel saraf menjadi matang dan besar. Fungsi sel glia juga mengatur kehidupan individu sehari-hari.

4. Sinaps
Selanjutnya terjadi pembentukan jalinan saraf satu dengan yang lainnya (sinaps). Setelah menjalani mielinisasi (proses pematangan selubung saraf), sinaps makin bertambah banyak.

5. Mielinisasi
Proses pematangan selubung saraf (myelin) yang disebut mielinisasi masih terus berkembang. Proses ini terjadi terutama beberapa saat sebelum terjadi kehamilan. Pematangan selubung saraf mencapai puncaknya ketika bayi berumur satu tahun. Setelah bayi lahir terjadi pertumbuhan serabut saraf. Lalu, terjadi peningkatan jumlah sel glia yang luar biasa serta proses mielinisasi.

Semua proses tersebut, selain berlangsung alamiah, juga dipengaruhi oleh stimulasi dan nutrisi. Nah, di sinilah pentingnya peranan orang tua pada masa prenatal (kehamilan) dan pascanatal (setelah kelahiran) dalam perkembangan otak anak. Karena itu, jika ibu atau ayah menghendaki si kecil mempunyai otak yang berkualitas, maka perlu memahami tahapan perkembangan otak anak meskipun secara garis besar saja. Persiapan agar anak memiliki otak yang berkualitas harus dimulai sebelum kehamilan, selama masa hamil, dan setelah bayi lahir sampai proses perkembangan otak itu selesai.

Berapa berat otak bayi?
Berdasarkan hasil penelitian, dibandingkan dengan seluruh berat badan ternyata berat otak hanya mencapai 2-3 persen. Rata-rata ketika baru lahir berat otak bayi adalah 350 gram. Kemudian, menginjak usia 1 tahun bertambah menjadi 1.200 gram. Percepatan pertambahan berat otak pada setiap anak berbeda-beda, tergantung pada faktor genetik dan lingkungannya.
Penelitian juga menyebutkan, otak bayi baru lahir ternyata besarnya sudah mencapai 25 persen dari otak orang dewasa. Kemudian, pada usia satu tahun perkembangannya sudah mencapai 70 persen dari otak dewasa. Pada umur satu tahun juga otak bayi sudah mengandung 100 miliar sel neuron. Dari angka tersebut, sekitar 70-80 persen sel neuronnya telah terbentuk secara lengkap. Memang, sejak bayi dilahirkan sampai berusia 1 tahun terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat sehingga masa ini disebut periode lompatan pertumbuhan otak. Dalam rentang waktu tersebut, sel neuron sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Maka tak salah jika orang tua disarankan memanfaatkan waktu yang berharga ini untuk menstimulasi bayi secara optimal.
Berdasarkan penelitian juga, diketahui bahwa pertumbuhan dan perkembangan otak anak perempuan ternyata lebih cepat dibandingkan otak anak laki-laki. Sebaliknya, konon otak anak laki-laki lebih besar dibandingkan otak perempuan. Kenapa? Kemungkinan karena faktor genetik.

Apa yang mempengaruhi perkembangan otak?Yang pasti, tumbuh-kembang otak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Jika kedua faktor ini tak mendukung, maka dengan sendirinya tumbuh-kembang otak jauh dari optimal. Faktor genetik dan lingkungan tak bisa berdiri sendiri, keduanya saling berkaitan dan bergandengan agar otak berkembang dengan baik.
Faktor genetik dipengaruhi juga oleh kondisi kesehatan ataupun gizi saat si kecil masih berupa janin. Jadi, kalau ibu kekurangan gizi, otomatis perkembangan sel-sel saraf dan pertumbuhan jaringan saraf janin pun tidak sebanyak yang harusnya bisa dicapai jika gizi ibu bagus.
Alhasil, otak bayi cenderung kecil dan kemungkinan kemampuan memorinya menjadi sedikit. Proses kerja otaknya juga lebih lamban ketimbang otak yang ukurannya lebih besar. Kelak, perkembangan motorik si kecil akan terlambat dan sehari-hari pun ia terlihat kurang cerdas. Tak heran, jika ibu hamil sangat dianjurkan untuk selalu mengonsumsi makanan yang bergizi.
Faktor lingkungan, dalam hal ini orang tua, juga punya peran yang penting terutama untuk menstimulasi si kecil. Rangsangan yang lebih optimal tentu harus diberikan setelah bayi lahir ketimbang waktu ia masih dalam kandungan. Suara atau belaian orang tua merupakan stimulasi bagi bayi yang dapat mempercepat perkembangan otaknya.

Kenapa otak harus distimulasi? Tanpa stimulasi, otak bayi menjadi tidak terolah. Akibatnya, jaringan saraf (sinaps) yang jarang atau tidak terpakai akan musnah. Di sinilah pentingnya pemberian stimulasi secara rutin. Mengapa harus rutin? Karena setiap kali anak berpikir atau mengfungsikan otaknya, maka akan terbentuk sinaps baru untuk merespons stimulasi tersebut. Berarti, stimulasi yang terus-menerus akan memperkuat sinaps yang lama sehingga otomatis membuat fungsi otak akan makin baik.

Mengenai stimulasi ini, para peneliti di Baylor College of Medicine, Houston, Amerika Serikat menunjukkan bahwa anak yang tidak banyak distimulasi maka otaknya akan lebih kecil 30 persen dibandingkan anak lain yang mendapatkan rangsangan secara optimal.

Mana lebih besar pengaruhnya, faktor genetik atau lingkungan?
Pertumbuhan dan perkembangan otak sangat tergantung pada kerja sama antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Namun, berdasarkan pengamatan, faktor lingkungan ternyata paling banyak berperan dalam menentukan masa depan anak. Contohnya, lingkungan dengan suasana yang baik dan menyenangkan, gizi baik, imunisasi, stimulasi dan kasih sayang yang cukup dapat mengoptimalkan perkembangan otak anak.

Apakah kemampuan otak dapat berubah? Ya, setiap saat kemampuan otak bisa berubah. Pada saat lahir, anak mungkin sehat dan pintar. Namun, jika kemudian anak menderita penyakit, katakanlah radang otak, maka habislah sudah kemampuan otaknya, karena sel-sel yang rusak tidak dapat diganti. Misalnya, anak tak diimunisasi, lalu terkena campak atau penyakit lain yang bisa menyerang otak, maka otaknya juga takkan optimal lagi. Selanjutnya yang bisa dibangun kembali adalah jaringan saraf anak tapi bukan sel otaknya.

Bagaimanakah susunan otak itu?
Secara sederhana, otak dibagi dalam 2 bagian, yaitu otak besar dan otak kecil. Otak besar berperan penting dalam kemampuan berpikir dan tingkat kecerdasan seseorang. Sedangkan otak kecil memiliki tanggung jawab sebagai pengontrol koordinasi dan keseimbangan.
Selanjutnya, struktur otak terbagi menjadi 2 bagian, yaitu otak kiri dan kanan. Masing-masing memiliki fungsi berbeda. Otak kiri berkaitan dengan fungsi akademis seperti belajar berhitung (matematika), logika, membaca, menulis, menganalisa, dan mengembangkan kemampuan daya ingat. Sementara, otak kanan berkaitan dengan kreativitas, seperti seni atau olahraga.

Bagaimana cara menstimulasi otak kiri dan kanan?
Baik otak kiri maupun kanan membutuhkan stimulasi yang seimbang agar fungsi-fungsinya bisa berkembang secara optimal. Tak mungkin hanya merangsang otak kiri atau otak kanan saja. Para pakar psikologi menilai, jika stimulasi dilakukan secara seimbang, maka tak hanya unsur kecerdasan yang akan meningkat melainkan kepribadian anak di kemudian hari.

Contoh menstimulasi otak kiri dan kanan di antaranya ketika ibu menyusui, dendangkanlah lagu-lagu yang terasa nikmat serta belai dan sentuhlah si bayi dengan lembut. Ajak pula si kecil berbicara meskipun ia belum bisa menjawab ucapan ibu atau ayahnya. Nah, melodi dari lagu akan menstimulasi otak kanan bayi, sedangkan lirik lagu yang didendangkan ternyata mampu merangsang otak bagian kiri. Yang jelas, stimulasi terhadap bayi mesti dilakukan dengan suasana gembira, bermain, aman, dan nyaman.

TENTANG SIALIC ACID

Zat-zat nutrisi sangat berperan dalam mendorong proses tumbuh-kembang otak anak. Zat yang sudah dikenal perannya adalah asam lemak omega-3 atau omega-6 yang banyak terdapat pada ASI. Zat ini di dalam tubuh bayi akan berubah menjadi AA dan DHA yang konon berfungsi dalam pembentukan membran sel saraf. Lantaran itu, banyak susu formula yang menyertakan AA dan DHA dalam komposisi gizinya. Untuk diketahui, zat-zat lain yang banyak terdapat dalam ASI juga mendorong peningkatan kecerdasan anak.

Penelitian terbaru menyebutkan ada zat lain yang banyak terdapat di otak, terutama di lapisan otak bagian luar, yaitu sialic acid yang juga terkandung dalam ASI. Fungsi sialic acid adalah membantu meningkatkan kemampuan memori dan proses belajar pada anak. Tentu saja kemampuan ini berpengaruh pada kecerdasannya. Namun menurut Dwi Putro, pertumbuhan dan perkembangan otak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Artinya, tak cuma zat-zat nutrisi tertentu yang punya peranan dominan bagi tumbuh kembang otak, termasuk sialic acid ini.

Hilman Hilmansyah
Sumber: Nakita

Kamis, 07 April 2011

Fase perkembangan bayi 7-12 bulan ( fase bayi duduk sendiri )

kapankah bayi bisa duduk sendiri?
buat checklist nya, bila bayi anda belum memenuhi kriteria ini, jangan paksa ia duduk.




Tiga Syarat
Menurut Profesor Hellbrugge dkk, sebelum bayi bisa melakukan gerakan duduk dengan leluasa, ada tiga fungsi dasar yang harus dikuasai lebih dahulu. Ketiga fungsi dasar itu ialah:

  • menegakkan kepala dalam semua sikap tubuh, 
  • melenturkan gerakan pinggul, 
  • dan memutar badan dengan aktif. 


Jika kita berkesempatan mengamati secara intens dan berkesinambungan perkembangan bayi sejak lahir sampai bisa duduk sendiri, kita akan tahu betapa tidak gampang buat bayi untuk menguasai ketiga fungsi dasar yang disebutkan Profesor Hellbrugge. Setidaknya, bayi perlu ‘latihan’ berbulan-bulan. Berikut ini bisa kita lihat bagaimana bayi berjuang memenuhi ketiga syarat itu, dan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka:

Menegakkan kepala dalam semua sikap tubuh.
Dalam posisi berbaring telentang, tengkurap atau didudukkan, bayi harus bisa menahan kepalanya agar tidak tergolek ke samping, terkulai ke belakang, atau terkulai ke depan.
Menahan kepala agar tidak tergolek ke samping. Bayi baru lahir kepalanya selalu menoleh ke samping. Baru setelah beberapa minggu, bayi bisa menahan kepalanya di tengah, sehingga wajahnya menatap ke atas sekitar 10 detik.

Bantuan yang bisa kita berikan:
Sering-sering berinteraksi dengan bayi di tempat tidurnya. Bayi senang memandang wajah manusia, sehingga akan termotivasi menggerakkan kepalanya ke tengah. Gantungkan juga benda berwarna cerah kira-kira 20 cm di atas tempat tidur bayi, untuk tujuan yang sama.

Menahan kepala tidak terkulai ke belakang. Bayi di bulan pertama, jika didudukkan (kedua lengannya ditarik sehingga tubuhnya terangkat dari posisi telentang ke posisi duduk), kepalanya akan langsung terkulai belakang. Baru di bulan ketiga bayi bisa menahan kepalanya meski hanya sebentar, yaitu waktu permulaan tubuhnya ditarik untuk didudukkan. Pada bulan keempat, barulah bayi bisa menahan kepalanya lurus dengan punggung, tak terkulai sama sekali ke belakang. Akhirnya di bulan kelima, bayi mampu menundukkan kepala ke depan jika ditarik ke posisi duduk.

Bantuan yang bisa kita berikan:
Ajak bayi bermain-main dalam posisi tengkurap. Pancing perhatian bayi – dengan benda berwarna cerah (lebih bagus lagi yang berbunyi) -- agar mau mendongakkan kepala dan melihat ke atas. Kegiatan ini membantu menguatkan otot-otot leher bayi dan kontrol kepala.
Menahan kepala tidak terkulai ke depan dalam posisi duduk. Bayi di bulan pertama, jika tubuhnya ditarik ke posisi duduk, kepalanya akan tertunduk. Kalau pun badannya ditegakkan, bayi hanya bisa mengangkat kepalanya 1-2 detik. Pada akhir bulan ketiga, barulah bayi bisa menegakan kepala minimal 30 detik. Di bulan keempat, bayi bisa menahan kepala tetap tegak, meski badannya dimiringkan ke samping. Di bulan keenam, barulah bayi bisa mengatur seluruh sikap kepala dengan baik.

Bantuan yang bisa kita berikan:
Tengkurapkan bayi di tempat yang aman, dan beri ia keleluasaan melakukan berbagai aktivitas penguat otot leher (mengangkat kepala, melihat-lihat ke kiri-ke kanan, menengadah, dll). Sediakan benda-benda untuk memancing gerakan kepalanya.

Melenturkan gerakan pinggul.
Dalam posisi telentang, bayi harus mampu menekuk kedua kaki secara berbarengan sampai bisa ‘terpegang’ oleh tangannya.  
Menekuk kedua kaki, sampai bisa memegang lutut. Setelah kurang lebih enam bulan berlatih merentangkan dan menekuk kaki dalam posisi telentang, barulah bayi bisa menekuk kedua kakinya sampai mencuat ke atas, sehingga pahanya membentuk sudut 90 derajat atau lebih dengan perutnya, dan tangannya bisa memegang dan bermain dengan lutut dan kakinya.

Bantuan yang bisa kita berikan:
Beri bayi keleluasaan untuk menggerakkan kaki dalam berbagai posisi. Kebiasaan membedong atau menggendong bayi rapat-rapat dengan kain sebaiknya diimbangi dengan waktu yang cukup untuk membiarkan bayi asyik ‘bergerak semaunya’ di tempat yang cukup luas dan aman.

Memutar badan dengan aktif.
Bayi harus bisa membalikkan badannya dari posisi telentang ke posisi telungkup, tanpa dibantu.
Memutar pinggul dan bahu, sehingga tubuh yang telentang membalik ke posisi telungkup. Berbeda dengan menggulingkan badan dari posisi tengkurap ke posisi telentang yang dilakukan tanpa sengaja (yaitu jika bayi usia 4 bulanan asyik mendongak sambil tengkurap, mengamati sesuatu di atas kepalanya, lalu kehilangan keseimbangan dan terguling karena tubuhnya tertarik ke belakang oleh kepalanya yang berat), membalikkan badan hanya bisa dilakukan oleh bayi yang lebih besar (biasanya di bulan ketujuh). Gerakan ini jauh lebih rumit, dan memerlukan keaktifan pinggul dan bahu bayi.

Bantuan yang bisa diberikan:
Dorong bayi yang sudah berusia 6 bulan untuk aktif memutar badannya sampai tengkurap. Tiap kali bayi menginginkan sesuatu – mainan, biskuit -- letakkan benda itu di dekatnya dan biarkan bayi bergerak dari posisi telentang untuk meraihnya.

Setelah menguasai ketiga fungsi dasar ini, merujuk Profesor Hellbrugge, bayi masih harus berlatih menggunakannya untuk duduk sendiri. “Sekarang  tergantung banyaknya latihan dan lamanya waktu, sampai anak bisa mengangkat dirinya dan duduk.” Demikian seperti diungkap dalam buku yang melaporkan hasil penelitian Profesor Hellbrugge dkk, Die ersten 365 Tage im Leben eines Kindes (edisi Indonesia: 365 Hari Pertama Perkembangan bayi Sehat).