![]() |
| gambar dari: matanews.com |
saya adalah seorang muslim...saya pernah di pondok pesantren, saya kuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah, saya menikah juga dengan seorang muslim..tapi mungkin apa yang akan saya tulis, berbeda dengan yang di tulis muslim lainya. Ini adalah sebuah pendapat saya, yang telah berbulan-bulan saya kaji, bertanya sana-sini kepada para ahli, dokter, seorang peniliti di Depkes yang muslim juga (walaupun sudah pensiun beliau sekarang masih aktif di Depkes).
Tuhan menciptakan setiap makhluk hidup dengan kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar dirinya. termasuk didalamnya penyakit infeksi yang dibawa oleh berbagai macam mikroba seperti virus, bakteri, parasit, jamur. Tubuh manusia mempunyai cara dan alat untuk mengatasi penyakit namun hanya sampai batas tertentu. Beberapa jenis penyakit seperti pilek, batuk, dan cacar air dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan, Jika kondisi sistem pertahanan tubuh (sistem imun) orang tersebut cukup baik untuk mengatasi dan mengalahkan kuman-kuman penyakit itu. Tetapi bila kuman penyakit itu ganas, sistem pertahanan tubuh (terutama pada anak-anak atau pada orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah) tidak mampu mencegah kuman itu berkembang biak, sehingga dapat mengakibatkan penyakit berat yang membawa kepada cacat atau kematian.
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh seeorang, terhadap suatu penyakit, dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh baik lewat suntikan maupun lewat mulut. Tujuan dari imunisasi ini adalah mencegah penyakit pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok orang atau bahkan menghilangkan penyakit tersebut.
di Indonesia ada 5 program imunisasi wajib yaitu : BCG, DPT, Polio, Campak, dan Hepatitis B sedangkan imunisasi lain sifatnya adalah hanya dianjurkan.
Dari data data yang ada, ternyata program imunisasi yang di telah dilaksanakan oleh pemerintah melalui Program Pengembangan Imunisasi (PPI) telah terbukti berhasil menurunkan angka kematian bayi (AKB). Tahun 1971 AKB sebesar 142 per 1000 kelahiran hidup, tahun 1980 turun menjadi 112 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 1990 menjadi 54 per 1000 kelahiran hidup, dan tahun 2000 an ini menjadi 40 per 1000 kelahiran hidup.
Mengapa 5 imunisasi ini yang di wajibkan ?
karena 5 penyakit ini lah yang menghantui penduduk indonesia. Berbeda negara, sudah pasti berbeda kebijakan. karena berbeda tempat, dan berbeda kultur, sudah pasti berbeda ancaman virus.
Ada beberapa pendapat tentang imunisasi yang saya sangat tidak sepakat :
- haram.
ehem...rasanya tak kan habis waktu bila membahas haram atau halal..saya merasa ilmu yang saya kaji selama ini belumlah cukup untuk menentukan sesuatu halal atau haram bagi orang lain. biarlah kajian itu untuk saya sendiri. yang jelas, ketika para ulama di satuan MUI sudah menyatakan bahwa vaksinasi ini halal, sudah tentu beliau-beliau telah meneliti dan mengkaji lebih dalam dengan memperhatikan sisi baik dan buruk dan mempertimbangkan data-data penelitian yang real.
- anak yang di vaksinasi lebih rentan terkena penyakit
kawan saya banyak yang berkata seperti ini ketika saya berkampanye ASI eksklusif "anak pertama saya ketika lahir langsung saya beri makan bubur bayi merk P, dan saya beri pisang. Anak kedua saya, saya berikan ASI ekslusif saja. ternyata anak pertama saya lebih sehat, tidak sakit-sakitan tidak seperti anak kedua yang cenderung gampang sakit"
apakah kita lalu mengatakan ternyata ASI tidak bagus?? atau kita ikut memberikan macam-macam makanan untuk buah hati kita ketika baru lahir??
begitu juga dengan vaksinasi. terkadang kesalahan orang tua yang kurang memperhatikan hal-hal sepele ketika akan mengimunisasi. atau telat memberikan obat ketika anak demam pasca imunisasi
vaksinasi adalah suatu kegiatan mencegah dengan harapan menghilangkan sama sekali wabah penyakit tersebut. Sama seperti obat-obatan lain yang mengandung efek samping atau kontraindikasi. untuk itu, ayah atau bunda perlu lebih cermat dalam arti, bertanya lebih dulu dengan dokter anda masalah sebab akibat. Seperti::
- pernah mengalami kejadian akut pasca imunisasi yang berat pada imunisasi sebelumnya,
- alergi terhadap bahan yang juga terdapat di dalam vaksin,
- sedang mendapat pengobatan steroid, radioterapi atau kemoterapi,
- menderita sakit yang menurunkan imunitas (leukimia, kanker, HIV/AIDS),
- tinggal serumah dengan orang lain yang imunitasnya menurun (leukimia, kanker, HIV / AIDS),
- tinggal serumah dengan oang lain dalam pengobatan yang menurunkan imunitas (radioterapi, kemoterapi, atau terapi steroid)
- pada bulan lalu mendapat imunisasi yang berisi vaksin virus hidup (vaksin campak, poliomielitis, rubela)
- pada 3 bulan yang lalu mendapat imunoglobulin atau transfusi darah
- sedang sakit walaupun hanya batuk pilek ketika akan imunisasi.
- vaksin tertentu meningkatkan risiko gangguan tingkah laku karena dibuat dari hewan tertentu
hehehehe..(maaf saya nyengir dulu). Kita adalah produk-produk imunisasi, Orang tua kita dulu hidup di jaman dimana vaksinasi sedang giat di publikasikan oleh pemerintah. pertanyaan, apakah tingkah laku kita menyerupai beberapa hewan??? fir'aun, jamrud, abu jahal, abu lahab, kaumnya nabi luth yang homo seks adalah orang-orang yang tidak di vaksinasi. tapi kelakuannya menyerupai binatang.
Baik dan buruk tingkah laku, orang tua lah yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik. Jangan menyalahakan unsur lain bila kemudian anak tumbuh tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
- Vaksinasi adalah hasil konspirasi zionis dan non muslim.
Aduuh...yuk mari kita berkhusnudzon....WHO di dirikan oleh PBB yang memang anggotanya banyak non muslim, tapi bukan berarti mereka memihak pada suatu agama.atau mereka jahat. misi mereka adalah kemanusian, membantu. Mengapa di negara maju mulai di tiadakan imunisasi :
- Tingkat polusi udara sebagai sumber berterbangan virus dan bakteri mulai bisa mereka kendalikan. Tapi negara berkembang, indonesia misalnya dimana masih sedikit orang-orang yang memperhatikan masalah polusi udara dan data kesehatan dunia membuktikan bahwa indonesia menduduki peringkat 3 penderita penyakit TBC.
- Masing-masing negara memiliki wabah sendiri-sendiri. Jadi, wajib vaksinasi nya sesuai kebutuhan
Menutup artikel saya kali ini, saya hanya bisa berkata, hidup ini banyak pilihan, pilihlah yang terbaik untuk anda dan keluarga. dan Maaf bagi yang tidak berkenan atau berbeda pendapat...
Seorang teman, anaknya terkena penyakit polio. Ketika bercerita dan saya tanya awal mula bagaimana (saya bertanya untuk berjaga-jaga) , dia malah berkata: "jadi nyesel dek dulu aku gak kasih imunisasi apa-apa, katanya karena haram..."
Nasi sudah jadi bubur...

nice info bun... :)
BalasHapustp apa semua vaksinasi & imunisasi itu halal bun??
apa bunda tau bahan" dasar utk vaksinasi??? bgmn dgn sejarah vaksinasi & imunisasi??
mohon kl bunda punya info lebih di share ya bun... makasih...
utk kasus tmn bunda... menurut saya itu adalah takdir... ada jg anak" yg sudah di imunisasi,, tetapi msh jg terserang penyakitnya... ^o^
hidup mmg pilihan... tp alangkah baiknya pilihan itu jika disertai dengan ilmu (tdk asal ikut-ikutan milih... ^__^
Saya sepakat bunda bahwa kita harus cerdas memilih dan tidak ikut-ikutan harus disertai ilmu dan pertimbangan yang matang, karena resikonya bukan kita menanggung tetapi buah hati kita (dalam hal ini imunisasi yang saya maksudkan)...
BalasHapusMasalah halal dan haram, seperti yang saya sebut, ada banyak ulasan yang tidak akan habis waktu untuk membahas halal dan haram yang telah di pertimbangkan oleh orang yang cukup ilmu baik ilmu syare'at atau ilmu medis (tepatnya pihak-pihak MUI dan pemerintah disini).
Untuk data-data Indonesia dan dunia pra program imunisasi dan pasca imunisasi saya ada (dan sangat berharap dapat segera mem-posting data tersebut). Tanggung jawab sebagai ibu 4 anak di bawah 7 tahun, 8 karyawan dan online shop membuat saya kadang kehabisan waktu untuk merangkai kata, padahal jari ini sangat ingin mengetikkan kata-kata yang telah siap di dalam otak (ce..ile....hehehe ^_^) .
yang jelas, karena data itulah dan keadaan negeri kita tercinta yang masih belum sadar kebersihan, maka saya memilih untuk ikut program imunisasi khususnya imunisasi wajib.
Mungkin nanti kalau negeri ini sudah berbeda, dimana orang sudah sadar untuk tidak buang sampah sembarangan, tidak mencemari sungai, sadar pentingnya penghijauan, perekonomian sudah maju dimana tidak ada lagi penduduk di bawah garis kemiskinan, saya pun akan setuju bila program imunisasi di tiadakan.
Untuk kawan saya, bisa jadi itu takdir, bisa jadi itu kecerobohan kita sebagai manusia (seperti orang yang sengaja berdiri di tengah jalan tol cikampek atau di rute busway).
Imunisasi adalah gerakan pencegahan (saya tidak bilang bahwa anak yang diimunisasi bisa tidak terkena penyakit tersebut).
Seperti halnya data dari DinKes menyebutkan 1 dari 3 anak yang di imunisasi BCG ternyata tetap terkena TBC.
lalu saya tanya kepada seorang peneliti di dinkes : "kalau begitu kenapa tetep ada imunisasi BCG Pak? kan buang-buang duit negara saja...mending buat nyekolahin saya lagi (hehehehehe..egois amaat...!)"
Beliau menjawab : " Minimal kita sudah menjaga yang 65% anak Indonesia dari TBC! Indonesia itu ranking 3 Dunia penderita TBC..."
Itu baru TBC, Bagaimana dengan Tetanus, diptheri, dan lain-lain...
Tetapi, kembali lagi ke penutup artikel saya bunda..hidup ini adalah pilihan....
Terima kasih ya bunda udah mau mampir dan baca-baca coretan saya....Semoga tali silaturahmi ini terus berjalan dan kita bisa banyak berdikusi.....
1.kalau menurut saya perlu ada investigasi khusus mengenai ini, apakah benar ini merupakan konspirasi zionis atau tidak. dan kepada rekan - rekan yang mengetahui informasi ini, untuk segera menyebarluaskan kepada masyarakat kita. demi menyelamatkan ummat manusia.
BalasHapus2. jika imunisasi tidak terbukti menjadi solusi,kenapa kita tetap mengkampanyekannya. kenapa kita tidak mengkampanyekan program lain yang lebih sehat alami.
3. apakah ada skenario bisnis raksasa mengenai hal ini. saya pribadi tidak melakukan imunisasiuntukanak saya.
pertanyaan yang serupa pun terlintas di benak saya:
BalasHapus1 jika ini memang konspirasi zionis, adakah bukti konkrit nya? selama ini yang ada hanyalah berupa artikel biasa? tidak ada yang bersedia mengacungkan jari, siapa kah yang bertanggung jawab atas artikel tersebut si pembuat artikel hanya bungkam....
2 Apakah ada solusi lebih baik? apa yang membuktikan imunisasi tidak menjadi solusi? Jika ini memang tidak baik mengapa seluruh negara di dunia termasuk USA melakukannya?
3 Jikalau perkara bisnis, berarti harus pintar-pintar bagi kita untuk memilih misal : gunakan produksi indonesia daripada import, toh yang herbal pun ujung-ujungnya adalah bisnis :)
4. Imunisasi atau tidak, itu adalah pilihan orang tua, kita berhak memilih bagaimana cara membesarkan anak-anak kita.....ketika kita memilih yakinlah, pilihan kita pasti terbaik :)
Ada 2 orang yg saya saksikan menderita polio setelah imunisasi polio...blm lagi kesaksian orang lain.
BalasHapusBaca di web: "vaksinasilah yang bertanggungjawab dengan kejadian flu spanyol 1918".
Ada 2 orang yg saya saksikan menderita polio setelah imunisasi polio...blm lagi kesaksian orang lain.
BalasHapusBaca di web: "vaksinasilah yang bertanggungjawab dengan kejadian flu spanyol 1918".