Rabu, 24 Maret 2010

Metode Glen Doman

Semua orang tua menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya, menginginkan mereka tumbuh pintar, cerdas, sehat, kuat dan tidak jahat (hehehehehe). kita akan sangat bangga jika di umur yang ke-2 anak kita sudah bisa membaca 2 suku kata seperti "ma-ma , man-di, ma-lu, ba-u"
dan seterusnya. Wow, kita semua berharap di SD nanti dia selalu duduk menjadi ranking 1, SMP dan SMA mengukir prestasi sehingga teman -temannya dan para guru berdecak kagum melihat buah hati kita, dan usianya yang 19 tahun si kecil nan lucu dan pinter ini sudah lulus S1. (Fantastic.......!!!!)



Mengapa saya tidak suka glen doman?
Bagi saya, dunia pendidikan atau berbisnis dalam dunia pendidikan bukan hanya soal uang semata, harus ada tanggung jawab moral yang tidak menyesatkan.  Karena berawal dari pendidikanlah nasib sebuah bangsa di tentukan.

Jangan fikir saya tidak tertarik dengan metode ini, ketika orang-orang mulai bergosip ria tentang dunia pendidikan dini dan mengaitkan dengan , saya pun tertarik, kemudian ikutan membeli flash cardnya  dan baru kemudian mencari referensinya (kebalik ya...?? aturan saya mencari referensi dulu baru kemudian membeli).

ketika mencari referensi di web (saya memang tidak menggunakan key word situs indonesia, saya langsung mengarah ke key word situs international karena metode ini asalnya memang bukan dari Indonesia) link yang pertama saya temui adalah ini http://www.ncahf.org/nl/2001/7-8.html  yang menyatakan bahwa metode Glenn Doman - Neuro Patterning method ini sudah dinyatakan Fraud dari tahun 1999 dan tahun 2001 sudah masuk dalam fraud listnya NCAHF (National Council Against Health Fraud). baca bagian judul :Pseudoscientific Psychological Therapies Scrutinized. Dan di US sendiri metode ini sudah di declare dan di ban oleh AMERICAN ACADEMY OF PEDIATRICS Committee on Children With Disabilities, dan Council of Exeptional Childrean dengan setumpuk journal review dan journal article yang menyatakan Glenn Doman - Neuro Patterning method ini tidak benar. Banyak sekali kritik ilmiah dan akademis mengenai ini. Salah satunya yang relatif mudah dibaca dan dipahami adalah disitus science & pseudoscience review in mental health : http://www.srmhp.org/archives/patterning.html, setelah link tersebut, web yang kemudian saya temui adalah jualan-jualan-jualan (jualan CD, Flash Card, seminar, dll). Just it.

Ada sebagian teman yang memprotes, "itukan yang di nyatakan fraud adalah untuk anak cidera otak". Betul, tetapi disini glen Doman mengaku-ngaku sudah melakukan penelitian tentang otak dan membuat kesimpulan yang tidak ngilmiah, kejujurannya di ragukan dan tentunya di bantah oleh organisasi-organisasi pendidikan.
Pernyataan-pernyataan glen doman dengan kroninya tentang cara kerja otak  inilah yang kemudian membuat sebuah persepsi salah berkembang di masyarakat. dan celakanya lagi, dengan di tambahi bumbu-nya plus penyedap, dalil-dalil glen doman di jadikan acuan cara belajar untuk mendidik anak usia dini.

Doman yang mengaku-ngaku telah melakukan penelitian di tahun 1961 tentang "Bagaimana otak anak-anak berkembang?".yang di dalamnya terlibat ahli dunia yang terdiri atas, dokter, spesialis membaca, ahli bedah otak dan psikolog. Ternyata menurut Mbak Rasti seorang pemerhati pendidikan Indonesia yang sampai saat ini tinggal dan menjadi seorang dosen di Universitas Amerika (maaf saya lupa tanya nama Univ nya), tempat penelitian Doman adalah kerajaan bisnisnya juga. Tidak  ada  institut dan organisasi nasional (Amerika) menjadi pendukungnya. Institut yang katanya meneliti dan mengumpulkan para pakar diatas, adalah  Institutes for the Achievement of Human Potential (IAHP), yang berpusat di Philadelphia ini adalah salah satu ladang bisnisnya keluarga Doman dimana foundernya adalah Doman sendiri atau endorsing IAHP  yaitu : the National Academy of Child Development (NACD), yang berlokasi di Huntsville, Utah ini adalah milik keluarga Doman (keponakan Doman). Institut dan organisasi pendidikan lain tidak ada yang mau bergabung karena teori glen doman tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, ngawur dan hanya bermotif ekonomi.

Menurut saya, tidak ada tanggung jawab moral di metode ini, pendidikan hanya di jadikan barang dagangan t Jelas terlihat, dengan metode Doman flash card laku keras, seminar-seminarnya berharga sekitar Rp900rb - tak hingga. Bahkan CD aslinya (dari IAHP) di beli orang temanku seharga $500. Tak ada yang salah dengan mencari uang, tapi jangan mencuci otak para orang tua dengan hasil penelitian-penelitian yang tidak valid, membuat pernyataan-pernyatan tentang otak manusia yang justru berlawanan dengan hukum otak itu sendiri.

Yang membuat saya lebih sedih lagi, ketika si Doman masuk ke Indonesia pemerintah kita hanya diam, bahkan ada yang ikut berjualan...setelah di tegur oleh pakar pendidikan internasional baru kemudian membatasi tapi tetap tidak klarifikasi sehingga walaupun om Doman sekarang tidak begitu ramai lagi, tetap saja kesimpulan-kesimpulan mengenai kinerja otak yang salah telah terbentuk disini.

lantas mengapa ada beberapa anak yang sukses dapat membaca dengan metode ini di Indonesia?
- pertama, kasih sayang dan ketekunan ayah bunda. Metode ini menuntut ayah atau bunda untuk tekun mengajari anak setiap hari. Bagi anak, kehadiran ayah atau bundanya itulah yang memicunya untuk menuruti dan menghafal. apalagi setelah berhasil menghafal ayah atau bunda memberikan apresiasi. Anak akan semakin termotivasi untuk mendapatkan apresiasi lain.
-kedua, kreatifitas. anak menyukai warna-warni, bentuk yang tidak membosankan. Doman memanfaatkan hal ini untuk membuat flash cardnya.

sebenarnya tidak murni sukses, karena anak doman cenderung memiliki masalah dengan prinsip membaca dan menulis karena mereka hanya menghafal, tidak memahami. Dan efeknya akan dirasakan ketika anak harus berkonsentrasi pada bacaan atau palajaran sekolahnya nanti (bagian ini kita pending dan dilanjutkan di artikel selanjutnya).

Ayah, Bunda...saya tidak melarang anda untuk menggunakan metode ini. Tulisan ini hanya sekedar berbagi pengetahuan, karena sama seperti anda saya adalah seorang ibu yang memiliki kasih sayang, cita-cita, dan harapan agar si kecil nanti menjadi anak sukses baik dalam Agama, hidup dan akademik. Hanya saja, kecintaan kita dan harapan kita yang begitu tinggi ini terkadang dimanfaatkan oleh pihak yang tidak memiliki tanggung jawab. Tidak semua yang datang dari luar adalah bagus. waspada terhadap tendensi di dalamnya dan banyak-banyak menggali informasi. Bagaimana cara kerja otak anak akan saya posting di artikel selanjutnya. (doakan saya tidak males nulis ya..biar cepat)

3 komentar:

  1. wah menarik artikelnya...
    salam kenal ya,,,,
    mampir2 di blogku
    http://codolsky-organized.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. hehehe..sekali mendayung 3 sampai 10 pulai terlampaui ya pak...
    sambil membaca bisa sambil beriklan...

    Gak apa-apa kok...sukses selalu ya...

    BalasHapus
  3. Maaf saya mampir dan meninggalkan jejak di setiap blog. Hehe...

    Kalo urusan sama belanja (duid) ibu-ibu pasti lebih sensitif, makanya saya tidak heran ketika buku-buku Doman beredar di Indonesia plus "perangkat"nya, ibu-ibu banyak yang protes, ternyata memang harganya buat sebagian keluarga bikin nelen air ludah... glek!

    Padahal, saya keliling-keliling sama mbah google, ternyata Doman cuma menulis buku saja, dan tidak mengkomersialkan selain buku yang dia tulis itu. "Lho, lalu flashcard dan embel-embel itu kerjaan siapa?" Hehe... Ibu-ibu pasti tahu jawabannya. Namun saya kasih rambu-rambu supaya tidak mendendam bagi yang sudah beli, hehe... Ya, kita kan harus belajar menghargai karya cipta orang lain, mungkin sebagian kita terbiasa dengan download musik atau mp3 gratis jadi giliran ada yang harus berbayar kayaknya gimana gituh haha.

    Hal kedua yang mau saya komentari adalah soal Doman itu sendiri, saya kaji beberapa literaturnya, dan saya dapati ternyata banyak orang keliru menyimpulkan, ingat Doman bukan seorang dokter, kalau pun dia seorang dokter, dia tidak bisa menyembuhkan anak-anak yang cacat otak atau keterbelakangan mental, karena itu terkait dengan fisik, genotif, dan kromosom, panjanglah kalau dibeberkan. Akan tetapi, Doman hanyalah seorang pengembang atau pemberdaya potensi manusia, itu sebab institut yang dia dirikan bernama The Institutes for the Achievement of Human Potential, bukan The Hospital for the Children's with Brain Defects.

    Dan satu lagi, mengembangkan potensi anak, baik normal maupun cacat, bukan proses sehari dua hari, tapi lifetime process, sama seperti kita belajar, yang kita kenal istilahnya dengan long-life education. Usaha bertahun-tahun Doman itu dia tuangkan ke dalam beberapa buku.

    Saya tidak ada hubungan apa pun dengan Doman maupun para "pemanfaat" keberhasilan Doman (pihak yang mengkomersialkannya). Tapi usaha Doman (dalam mengembangkan potensi anak) perlu kita apresiasi dengan baik, sebagai sebuah hasil usaha yang bukan sehari dua hari dia lakukan, dan mungkin bisa jadi salah satu metode yang cocok atau anda suka untuk mengembangkan potensi anak anda.

    Saya memang sedang meneliti tentang Doman ini, tapi sepertinya saya tidak mendapati Doman menerbitkan pernyataan ilmiah tentang cara kerja otak, yang saya dapat dia justru belajar atau bahkan bereferensi pada ahli lain tentang hal itu.

    Tapi saya berterima kasih sama ibu, terkait statement "kerajaan bisnis", hipotesa saya kalau sudah menyinggung soal bisnis tentu ada persaingan usaha, tapi bahasan bisnis bukan hal yang mau saya cari tahu, tapi siapa kompetitor selain Doman, artinya dengan statement tersebut dapat kita perkirakan ada institut lain yang segmentasinya sama seperti Doman, apakah "dia/institusi" itu komersial ataukah non-komersial?

    Kita tanyakan pada "ibu yang bergoyang" hehe... mungkin bisa ditanyakan bu ke temannya yang di Amrik.

    Terima kasih...

    BalasHapus