
Hari ini, saya dan suami berjalan-jalan meneruskan silaturahmi ke sanak famili, dari seorang pamanlah cerita ini saya dapat. Saya sama sekali tak ingin menghujat siapa pun. Mungkin kepergian Darma yang baru berumur 2,5 tahun memang sudah menjadi takdir atau mungkin juga Allah memang menjadikannya sebagai malaikat penolong sang Bunda kelak.
Tapi sungguh, sebagai seorang Bunda hati ini juga terenyuh, sakit dan sesak, betapa Indonesia yang kita cintai ini masih belum mampu memberikan fasilitas kesehatan yang murah bagi rakyat yang mencintainya, sehingga entah untuk yang ke berapa kalinya, seorang Bunda kembali menangis karena kehilangan buah hati yang sakit dan tak mampu memberikan pengobatan yang layak.
Sebut saja Darma adalah anak dari sebuah keluarga pas-pasan. Jangankan tabungan, menutupi kebutuhan sehari-hari saja harus bekerja keras. Siang itu Darma diare, awalnya orang tua Darma berusaha untuk memberikan P3K sendiri dengan harapan akan membaik, namun sampai keesokan harinya Darma tetap buang-buang air tanpa henti dan lemas sehingga akhirnya kedua orang tuanya membawanya ke praktek Dokter A. Setelah minum obat, Darma mulai kembali ceria, berjalan, joget, berceloteh walaupun masih diare. Namun pada malam hari, tiba-tiba Darma panas tinggi disertai kejang-kejang (step). Kedua orang tuanya panik kemudian meminta bantuan paman saya (yang kebetulan menjabat sebagai RT di kompleks tersebut). Dengan segera paman saya membawa Darma ke Rumah Sakit B karena itu adalah rumah sakit terdekat. Di sana Darma langsung di masukkan ke ruang ICU dan di berikan pertolongan sesuai dengan SOP. Di berikan obat turun panas lewat dubur, di infus dan di beri oksigen. Keadaan Darma membaik dan Darma pun mulai sadar. Pihak Rumah sakit B menyuruh Darma untuk di rawat dengan membayar DP sebesar 3.500.000 rupiah. Angka yang membuat nafas sang ayah sesak dan tak berdaya bagaimana tidak, biaya pengobatan sebesar 500.000 yang hanya 1 jam saja di rumah sakit B tersebut paman saya yang membayar . Kemuadian Darma dibawa ke rumah sakit Swasta lain dan kembali di tolak dengan alasan biaya. Dengan pertimbangan tersebut maka paman saya dan orang tua Darma meminta rujukan untuk ke Rumah Sakit Negeri karena keluarga Darma memiliki kartu Gakin. Di Rumah Sakit Negeri Darma kembali di tolak dengan alasan biaya dan ruang ICU penuh. Kartu Gakin tidak lagi berlaku karena sekarang program pemerintah untuk keluarga tidak mampu adalah JamKesMas. Tragis. Orang tua Darma harus menunggu. Karena malam sudah larut, paman saya dalam keadaan tidak sehat, orang tua Darma menyuruh paman saya untuk pulang dan meminta tolong esok paginya untuk mendaftarkan JamKesMas karena selama jamKesMas belum jadi, mereka harus membayar seperti pasien umum. Akhirnya paman saya pulang dan meminta KTP sang ayah untuk mengurus JamKesMas esok hari. Dan DP di Rumah Sakit Negeri pun paman saya yang membayar kekurangan nya karena uang yang dibawa orang tua Darma tidak cukup.
Setelah menunggu lama, pasien ruang ICU ada yang meninggal dunia sehingga Darma bisa masuk dan mendapatkan perawatan. Akhirnya orang tua Darma bisa menarik nafas lega. di Dalam ICU, Darma tidak boleh di temani, orang tua Darma menunggu di luar. Karena kebijakan rumah sakit memang seperti itu, orang tua darma hanya bisa sesekali mengintip dari balik jendela untuk melihat apakah Darma menangis atau masih tertidur. Jam 2 pagi, dari balik jendela sang Ayah kembali melihat Darma kejang-kejang. Panik dan berlari mencari tenaga medis yang ternyata sedang duduk mengobrol di dalam ruangan sambil minum-minuman hangat dan mengisi perut dengan makanan. Darma kembali di berikan tindakan. Setelah kondisi Darma mulai dapat terkontrol sang perawat keluar ruangan dan mengharuskan orang tua Darma membeli sebuah alat seharga Rp300.000. Uang yang mana lagi yang harus di gunakan?? uang yang tadi di bawa sudah diberikan untuk DP rumah sakit. Ayah Darma menelpon ke rumahnya untuk berbicara dengan nenek Darma dan meminta mencoba mencari pinjaman uang untuk membeli alat tersebut. Sang Ayah menemui perawat dan mengatakan baru ada uang esok pagi. Ternyata umur Darma tidak sampai besok pagi... Darma yang lucu menghembuskan nafasnya pada jam setengah 3 pagi, sebelum matahari terbit dan tersenyum padanya seperti hari-hari sebelumnya...tak ada alat lagi yang harus di beli esok paginya.
Jam 3.05 ayah darma menelpon paman saya memberitahukan kabar duka ini sekaligus meminta tolong untuk mengurus pemakaman. Paman saya langsung meluncur kembali dengan sepeda motor agar lebih cepat. Sampai di Rumah sakit Jenazah Darma akan dibawa pulang oleh sang ayah dengan menggunakan motor karena untuk membayar ambulance sudah tak ada lagi uang. Pagi itu paman saya kembali mengurus Darma dan menyewakan ambulance serta kembali mengurus administrasi rumah sakit negeri yang hanya beberapa jam saja biaya tindakan sebesar Rp1.600.000 dengan menggunakan uang kas RT dengan harapan sumbangan ta'ziyah dari tetangga akan dapat menutupi uang kas yang di pinjam itu.
Sekali lagi, saya tidak punya niat untuk menghujat siapapun dalam kisah ini. Saya bukan pejabat pemerintah yang dapat menentukan bagaimana sebuah rumah sakit negeri bertindak. Saya bukan tenaga medis yang pernah dididik untuk menghargai nyawa orang lain. Saya bukan Menteri Kesehatan yang dapat menyuruh anak buah untuk mensosialisasikan program-program kebijakan sehingga rakyat miskin mengerti harus bagaimana. Saya bukan pemilik rumah sakit swasta yang dapat menyuruh karyawan saya untuk memilah mana pasien darurat untuk diberikan kebijakan. Saya bukan anggota LSM yang dapat menyerukan suara hati rakyat kecil, saya juga bukan ketua KOMNAS anak yang katanya menyerukan hak-hak anak...
Saya hanya seorang bunda yang ingin berbagi cerita agar orang tua lain dapat memetik pelajaran dari apa yang saya ceritakan, agar lebih berhati-hati dan lebih waspada dalam menjaga buah hati kita. Saya hanya seorang bunda yang menangis mendengar cerita ini dan hanya dapat memohon " Ya Rabb ku, berikan hamba dan keluarga hamba kehidupan yang penuh berkah. Berkahilah setiap langkah ini sehingga kami dapat menjaga titipan amanah MU (anak-anak kami) dan memberikan mereka kehidupan yang layak. Amin.."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar